Bersyukur Kepada Sang Pencipta; Sastra.....

Alhamdulilah Ya Allah, aku telah pasrah dengan selapang keikhlasanku yang berwujud dengan selalu mengingat asamamu yang sangat mulia. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memilihkan hambamu ini tempat yang insyaallah engkau ridhloi di bulan suci penuh berkah ini. Semoga hamba bisa menjadi yang lebih karena ini..
Karena kebesaran Allah, kita sebagai umat yang tak berdaya wajib untuk senantiasa bersyukur bersyukur dan bersyukur untuk apa yang terkabul...
Banyak jalan kok bersyukur itu,
Pertama, hati harus selalu bersih dan mengucap syukur kepada Allah dengan hati yakin karena itu yang terbaik untuk kita yang dipilihkan langsung oleh Allah..
Kedua, lisan senantiasa menyebut asma allah dengan penuh dan rasa yang sangat khusyu'.
Ketiga, perbuatan harus bernilai positif dan menunnjukkan kalau kita senantiasa senang dan bersyukur atas pilihan Allah untuk kita..
Allahuakbar, Ya Allah terima kasih atas semuanya...unej-akuntansi.

The Red Baloon for wise; sastra !



Terik membakar rona sang mawar, entah pilu apabila ia teringat pada kejadian tahun kemarin yang memilukan... Sesosok bijaksana bertahta dalam jiwa sang mawar. Betapa sepi dibawa dalam rindu. Diujung kalbu yang merona terbakar oleh bias yang hanya terbayang transparan. Angan telah diterbangkan oleh gas berwarna merah menggelembung. Dengan harapan gas itu menyampaikan sejuta rindu untuknya...
Namun bila bisa ku memilih, akan terlaksana oleh bibir yang kian membeku. Tapi tak apalah...biar gas itu yang berbicara tentang semuanya..
1,....
2,....
3.. telah kulepaskan sebuah gas bergelembung berwarna merah sesuai perasaanku..
Balon, Semoga kau sampai disana ketika malam dan menembus mimipinya...
I MISS U

Rindu Sang Bijaksana; Sastra !



 

Apa kabar bijaksana ?
Mungkin kata hati ? namun kenyataannya lisan yang tak bertindak. Ku tak menegrti mengapa begini.
Aku bilang dalam anganku, hanya serpihan angan yang terhempas dalam kabutan debu cinta.
Mungkin tercabik oleh siratanku ? Kamu bilang untuk aku !
Aku bilang dalam sucinya lembaran putih, hanya rongsokan perih hati untuk tercoret.
Mungkin kamu tusuk jantung kembangku ? kamu bilang bukan aku !

Sajak Di Ujung Rimba Jawi !


Sastra Jawa Kuno atau seringkali dieja sebagai Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita, undang-undang hukum, kronik (babad), dan kitab-kitab keagamaan. Sastra Jawa Kuno diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. Manuskrip-manuskrip yang memuat teks Jawa Kuno jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan.

Intinya Galau ! SASTRA ?



Galau, kenapa sih selalu menggenang di otak !
Galau, kenapa sih selalu membayangi panca !
Galau, kenapa sih GALAU selalu hadir ?
hmm....
Ya iyalah selalu hadir. wong ya hidup, mustahil baget hidup tanpa galau. Anehnya dengan fikiran kacau, sumpek, bingung, dan intinya "galau" justru memicu kita untuk berpuitis - puitis ria. Memang nggak semua orang sih yang seperti itu, kan kebanyakan. Beginilah kehidupan...
Dengan lenggak - lenggoknya pena memutar untuk menggeliakkan kata demi kata secuil amarah ataupun emosi yang muncul sekan tak sadar dengan yang telah kita tulis termsuk ke dalam sastra.
Ya, itulah sastra. Abstrak, namun indah juga bisa untuk apapun. Nah, setelah kita sadar dengan emosi yang stabil ketika kita mencoba untuk membaca karya tidak sengaja kita tadi, ternyata lumayan juga..
Nah, biasanya kita jadi demen tuh bikin sajak ataupun sastra yang lainnya. Namun ada juga setelah galau hilang akan mencoba membikin sajak ataupun sastra lainnya tidak bisa, dan apabila memaksa, hasilnya pun jelek. Itu bagi kita individu, padahal sastra itu tidak ada yang jelek ataupun buruk. Setiap kata yang terukir memiliki makna tersendiri, entah tersirat ataupun tidak.
Lebih jelasnya, yuuk lebih mempelajari sastra supaya kita lebih lihai dan maknanya pun semakin terlihat.
Kesmpulannya, galau itu bisa mempengaruhi kelihaian sastra kita. Semangaaatt !!
Lebih atur emosi, agar psikologi kita juga teratur, sehingga lebih mudah untuk mencerna sastra demi sastra..  


SASTRA lama 1980-1990



Angkatan 1980 - 1990an

Foto diatas adalah foto dari penulis cerita remaja pada dekade 1980 dan 1990, ia Hilman Hariwijaya.

Sastraku Semanis Cup Cake :)


Suci, semerekah manis senyum anggunmu yang alami.
Terlihat sejuk hanya untuk menarik kedua pipi sejajar keatas dengan secuil bait dalam sastra rinduku.
Ku alami entah lama entah sebentar.
Terasa kelu untuk menahan betapa rindunya sepotong cup cake mungil.

Menelusup Arti Do'a di Sastra


Subhanallah...
Allah benar - benar Maha Kuasa dan sempurna. Dalam sebait doa berkalam ilahi juga bernilai sastra tinggi, kita ambil arti dari do'a setelah sholat duha dimana sholat yang dilakukan atau dikerjakan ketika matahari mulai muncul sampai munculnya kumandang adzan dhuhur.
niih artinya :

Sastra Milik Ibu Pertiwi



Bukti nyata !
“Hei bung! Ayolaah memakai bahasa Indonesia yang baku dan sopan !”
Banyak kita jumpai sendiri pemuda – pemudi khususnya di Indonesia ini masih belum bisa berkata sopan apalagi dengan bahasa yang benar dan santun. Indonesiapun mempunyai aturan sendiri untuk kesopanan

Paradigma Islam terhadap Seni Sastra

Dalam paradigma seni sastra dan Islam, konsep baku seni sastra dalam perspektif Islam belum disepakati secara menyeluruh. Belum matangnya paradigma sastra dalam perspektif Islam disebabkan karena adanya perdebatan dan kontroversi yang tidak pernah tuntas tentang seni sastra dalam perspektif Islam. Di satu sisi sebagian besar orang muslim mengatakan bahwa Islam sama sekali tidak bertentangan, apalagi melarang seni sastra. Bahkan Menurut Sayyed Hosen Nasr (1993: 99) Sastra menjadi kajian penting untuk memahami hubungan antara seni dan spiritualitas Islam. Karena ajaran Islam berdasarkan pada firman Tuhan yang diwahyukan sebagai kitab suci, maka sastra menempati posisi yang utama dan istimewa di antara berbagai bentuk seni yang ada di hampir seluruh masyarakat Islam. 

Butir - Butir ...


Pagi buta ! Entah kokokan keberapa sayup - sayup merdu itu yang mengadu lomba sang jalu untuk menjadi yang terkeras. Oke ! Telinga ini masih mampu kok mendengar, bahkan rasa ini masih bisa merasakan bahwa terik itu akan muncul. Mungkin langit tetap tak percaya akan kesadaran ini, buktinya embun yang belum berwarna sempurnapun jatuh membasahi kulit ari ini. Tak itu juga, rentetan klakson mobil raksasa yang

Dengan Kata Lain...!

Bukan kata juga lisan, hanya sebait untuk menghargai. Entah buruk ataupun tak berguna, hanya ingin menyampai dalam syahdu. Walau tak semegah emas, hanya mencoba. Meskipun jauh sempurna, hanya menggapai tuk lebih sempurna.

Lagu Oplosan dalam Sastra :)


Lagu yang berwujud dalam Bahasa Jawa ini menjadi fenomenal ketika dipopulerkan oleh Shoimah dalam YKS. We Oo We...
Lagu ini kesan nya gimana gitu, namun dibalik lagu koplo jawa itu terngiak berjubel sastra didalamnya.

SASTRA DI LAGU


LAGU MERUPAKAN PRIMADONA KARYA SASTRA DALAM PEMBENTUK SEBUAH KARAKTER 

Dewasa ini, siapa yang tidak mengenal apa itu lagu? semua kalangan masyarakat, dari tingkat usia anak-anak sampai orang tua, mengenal apa itu lagu. Bahkan tidak hanya mengenal, sebagian dari kalangan tersebut adalah penikmat lagu. Sering kita temui di setiap sudut keramaian, seperti; di sekolah, pasar, terminal, rumah, bahkan di dalam mobil juga, terdengar adanya alunan-alunan merdu dan syair lagu yang diperdengarkan. Tak heran semua kalangan masyarakat sangat suka mendengarkan lagu, karena lagu dapat memberikan suatu kenikmatan tersendiri bagi pendengarnya. Di samping ada alunan musik yang menuntun pendengar menikmati alunan nada-nada indah, lagu juga dihiasai oleh syair indah yang dituangkan pengarang untuk menciptakan efek estetika tulis sebagai pencitraan dalam berfantasi. Dengan kata lain, penikmat lagu selain dimanjakan oleh alunan merdu dari bunyi atau musik yang diperdengarkan, penikmatnya juga dituntun untuk berfantasi, lewat bahasa yang tertuang didalam lagu tersebut. Mengambil kutipan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang pengertian lagu, “Lagu merupakan berbagai irama yang meliputi suatu instrumen dan bernyanyi”.
Banyak hal yang dapat dilihat dalam sebuah lagu, baik itu dari segi unsur bunyi dan unsur bahasa. Unsur bunyi merupakan paduan beberapa nada secara acak dan disusun secara sistematis menjadi sebuah instrumen musik. Dan unsur bahasa merupakan media pengonstuksian menuju suatu pengekspresiannya, yang terwujud dalam sebuah perkataan ataupun sebuah perbuatan yang menyatakan suatu ungkapan lewat sebuah tulisan. Mengkaji penggabungan antara unsur bunyi dan unsur bahasa pada lagu sangat menarik. Lebih-lebih pada konstribusi yang diberikan lagu, pada penikmatnya. Tetapi, adakah yang tahu bahwa lagu merupakan primadona karya sastra yang melibatkan unsur bunyi dan unsur bahasa? Dari banyaknya jenis karya sastra yang telah kita ketahui, seperti; puisi, cerpen, prosa, novel dan lain-lain. Ternyata lagu termasuk jenis karya sastra yang mempunyai rangking teratas di dalam karya sastra. Menurut saya, dari ke semua jenis-jenis karya satra lainnya, lagu mempunyai suatu karismatik tersendiri terhadap penikmatnya. Lagu mempunyai jangkauan rating yang sangat luas, sehingga penikmatnya hampir di semua kalangan. Di samping lagu dapat dinikmati dari segi unsur musiknya, penikmatnya juga, dapat merasakan berbagai ungkapan perasaan yang disampaikan pengarang lewat syair dari lagu tersebut.

Elok Puisi Sufi


MENGENAL PUISI-PUISI SUFI YANG MENENANGKAN JIWA DAN UNIVERSAL



Gerundelan Sonny H. Sayangbati

Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang punmelihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku. – (Rumi – Blog Sastra Indonesia)
Puisi-puisi sufi banyak diperkenalkan oleh para penyair Arab dan Persia sebagai salah satu cara melestarikan nilai-nilai keagamaan atau ajaran-ajaran dalam kitab suci mereka. Para penyair sufi berupaya menulis dengan nilai-nilai luhur atau menggunakan pendekatan yang dinamakan : ” Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme(bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi).” – Wikipedia Indonesia.
Pendekatan yang lain mengatakan bahwa : “Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.” – (Wikipedia Indonesia).

Sastra + Agama


Titik Temu Sastra Dengan Agama
OPINI | 15 September 2013 | 09:03
 Dibaca: 302   


Pembicaraan mengenai relasi antara agama dan sastra merupakan pembicaraan yang selalu menarik untuk dilakukan. Tidak jarang keduanya memunculkan pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif.
Hakikat agama sebagai sumber yang melahirkan hukum-hukum keagamaan seringkali memunculkan kebakuan yang tidak dapat ditawar, agama selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat. Jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat, oleh karena itu kemudian muncul istilah chatarsis, istilah yang dikemukakan oleh Aristoteles tersebut menandakan bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif.
Namun, pada tataran tertentu, keduanya memiliki klaim yang sama sebagai sesuatu yang mencerahkan. Menurut Max Weber, sosiolog teologis, agama berperan bagi institusi sosial secara etis dengan memberikan pandangan dan sikap terhadap dunia. Dari sinilah, agama sebagai pemberi makna bagi kehidupan. Bahwa dengan agamalah manusia memiliki kehidupan yang bermakna, baik kepada Tuhan maupun sesama.
Esensi agama sebagai makna ternyata tidak jauh berbeda dengan sastra. Sastra (Sansekerta: shastra) secara etimologis bermakna teks yang mengandung intruksi , dengan kata lain, sastra adalah pedoman. Sastra sebagai pedoman tentu saja berperan dalam memberikan makna. Tidak melulu berbicara hanya pada tataran keindahan dan kebebasan, ada isi yang disampaikan di dalamnya. Sejatinya dengan kebebasan dan keindahan itulah sastra merepresentasikan makna. Karena itu, Horace menyebut sastra sebagai dulce et utile, yakni yang menghibur dan yang bernilai, keduanya (yang menghibur dan yang bernilai) harus selalu bersamaan dalam sastra.
Kesamaan agama dan sastra tidak hanya bermuara pada klaim pencerahan. Agama dan sastra juga sejatinya sama-sama bermuara pada jiwa. Sastra dengan chatarsis-nya adalah cara bagi manusia untuk membebaskan jiwa dari kegelisahan-kegelisahan atas kesemrawutan tatanan sosial dan kaburnya kemanusiaan di dunia. Manusia mencari kembali kemanusiaan-nya yang hilang dengan sastra, memuaskan diri dengan bersajak atau berprosa, mencari ketenangan darinya. Sama halnya dengan agama, agama menuntun manusia untuk membersihkan dirinya, menyucikan dirinya dari segala keruwetan jiwa. Meskipun agama memberikan berbagai aturan formal bagi pemeluknya, namun agama juga sekaligus memberikan sentuhan jiwa.
Peran sastra sebagai penggugah jiwa yang tidak jauh berbeda dengan peran agama sebagai penyentuh jiwa membuat Jean-Paul Sartre, seorang filsuf asal Perancis beranggapan bahwa pada masyarakat dengan peradaban modern, posisi sastra akan menggantikan agama, dengan pertimbangan bahwa agama dianggap sebagai sesuatu yang kaku, tidak bergerak, tidak lentur, dan sulit mengaktualisasikan diri dengan zaman. Anggapan ini rupanya diamini oleh Feuerbach, teolog Jerman yang dengan keras memberi aksentuasi kritik terhadap kaum beragama: Hanya orang-orang miskin yang setia pada agama, agar  mereka bisa bermimpi dan melupakan kemiskinannya. Akhirnya lupa mengkritisi penguasa negeri sendiri.Benarkah apa yang ada di pikiran Sartre bahwa sastra akan menggantikan agama? Benarkah pula apa yang disampaikan Feuerbach bahwa agama membuat pemeluknya buta akan kritik sosial maupun kritik pemerintah?
Menurut hemat penulis, sastra tidak akan mampu menggantikan agama, meskipun peradaban sudah sedemikian modern, agama justru menjadi pelengkap bagi kehidupan manusia. Benar bahwa manusia sekarang lebih cenderung membutuhkan segala yang instan, sastra dianggap cara yang lebih instan untuk menggugah jiwa ketimbang dengan agama.
Agama dan sastra dianggap dua hal yang sangat bertentangan. Tetapi, realitas yang terjadi justru tidak demikian, sastra dan agama sebenarnya senantiasa berjalinkelindan. Alquran sebagai kitab suci umat Islam diciptakan dengan tingkat kebahasaan dan sastra yang sangat tinggi, pengisahan tentang sejarah penciptaan manusia, maupun sejarah Islam dibalut dengan prosa yang begitu apik. Doa-doa, kata-kata bijak serta sejarah yang dibalut dalam puisi maupun prosa juga banyak ditemui di dalam Injil, terutama dalam Mazmur. Bukti bahwa agama adalah keindahan, yang dengan keindahan itu makna diciptakan untuk menggugah iman dan jiwa pemeluknya.
Menjadi menarik jika kita menilik hubungan sastra dan agama yang ternyata begitu intens terjalin bahkan sejak penciptaan kitab suci dilakukan.
Selain itu, posisi agama sebagai yang kaku juga tidak selamanya benar, agama sebagai pedoman kehidupan manusia pada tataran tertentu akan selalu mengikuti ke arah mana zaman berubah. Kalangan muslim modern meyakini bahwa Alquran adalah aturan formal yang fleksibel dan dinamis, ia selalu bisa ditafsirkan dengan berbagai macam makna sesuai dengan kondisi zaman yang sedang terjadi. Benar bahwa agama adalah aturan, namun agama tidak perlu ditakuti sebagai sesuatu yang memenjarakan pemeluknya dengan aturan tersebut, sebab aturan dalam agama senantiasa mengikuti kebutuhan pemeluknya sesuai dengan kondisi zaman yang sedang terjadi.
Kurang tepat kiranya pernyataan Feuerbach mengenai sikap skeptis agama tentang kritik pemerintah maupun kritik sosial. Pedoman tentang kehidupan, kebijaksanaan, keadilan, serta kepemimpinan justru lahir dari agama. Pesan-pesan yang disampaikan agama untuk manusia sejatinya adalah kritik kepada mereka yang lalai dalam menjalankan amanat kehidupan. Amanat kehidupan manusia tidak hanya ditujukan untuk Tuhan semata, ada ibadah sosial yang harus dipratikkan oleh pemeluk agama, tentang pemimpin, bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.
Dari segi semangat humanisme, agama hadir dalam kehidupan manusia untuk merevolusi kondisi sosial yang timpang dari sisi keadilan, agama hadir untuk melepaskan manusia dari segala bentuk penindasan. Melalui Rasulullah, kondisi sosial yang awalnya dalam keadaan carut-marut pada akhirnya mengalami pencerahan. Sastra pun demikian, ia hadir untuk mencerahkan manusia, sebab pengarang karya sastra dianggap memiliki kepekaan batiniah yang lebih tinggi dibanding manusia lainnya, karena itu tidak jarang kritik atas kesemrawutan tatanan diejawantahkan dalam sebentuk karya sastra yang sering kita sebut sebagai karya kritik sosial.
Menjadi jelas bagaimana posisi sastra dan agama, keduanya sama-sama menggugah dan menyentuh jiwa, sama-sama mengangkat isu kemanusiaan, sama-sama kritis terhadap kesemrawutan tatanan sosial, sama-sama memberikan makna bagi kehidupan. Maka tidak aneh kiranya jika kemudian lahir para sastrawan yang memadukan antara sastra dan agama, Muslim memiliki Gus Mus yang getol mengkritik pemerintahan dengan sastra relijiusnya, Kristiani memiliki Joko Pinurbo yang rajin menggelitik rasa humanisme kita dengan sajak-sajak dan prosanya. Akhirnya, tak ada lagi alasan untuk mempertentangkan entitas dan esensi sastra dan agama, sebab keduanya sama-sama bermuara pada satu titik; pendidik diri manusia serta penggugah jiwa dalam bingkai estetika.
(kompasiana)
 
Diberdayakan oleh Blogger.
Tiny Rainbow

Followers

Cari Blog Ini

My Blog List

time

Flag Counter