Paradigma Islam terhadap Seni Sastra
Dalam paradigma seni sastra dan Islam, konsep baku seni sastra dalam perspektif Islam belum disepakati secara menyeluruh. Belum matangnya paradigma sastra dalam perspektif Islam disebabkan karena adanya perdebatan dan kontroversi yang tidak pernah tuntas tentang seni sastra dalam perspektif Islam. Di satu sisi sebagian besar orang muslim mengatakan bahwa Islam sama sekali tidak bertentangan, apalagi melarang seni sastra. Bahkan Menurut Sayyed Hosen Nasr (1993: 99) Sastra menjadi kajian penting untuk memahami hubungan antara seni dan spiritualitas Islam. Karena ajaran Islam berdasarkan pada firman Tuhan yang diwahyukan sebagai kitab suci, maka sastra menempati posisi yang utama dan istimewa di antara berbagai bentuk seni yang ada di hampir seluruh masyarakat Islam.
Butir - Butir ...
Pagi buta ! Entah kokokan keberapa sayup - sayup merdu itu yang mengadu lomba sang jalu untuk menjadi yang terkeras. Oke ! Telinga ini masih mampu kok mendengar, bahkan rasa ini masih bisa merasakan bahwa terik itu akan muncul. Mungkin langit tetap tak percaya akan kesadaran ini, buktinya embun yang belum berwarna sempurnapun jatuh membasahi kulit ari ini. Tak itu juga, rentetan klakson mobil raksasa yang
Dengan Kata Lain...!
Bukan kata juga lisan, hanya sebait untuk menghargai. Entah buruk ataupun tak berguna, hanya ingin menyampai dalam syahdu. Walau tak semegah emas, hanya mencoba. Meskipun jauh sempurna, hanya menggapai tuk lebih sempurna.
SASTRA DI LAGU
LAGU MERUPAKAN PRIMADONA KARYA SASTRA DALAM PEMBENTUK SEBUAH KARAKTER
Banyak hal yang dapat dilihat dalam sebuah lagu, baik itu dari segi unsur bunyi dan unsur bahasa. Unsur bunyi merupakan paduan beberapa nada secara acak dan disusun secara sistematis menjadi sebuah instrumen musik. Dan unsur bahasa merupakan media pengonstuksian menuju suatu pengekspresiannya, yang terwujud dalam sebuah perkataan ataupun sebuah perbuatan yang menyatakan suatu ungkapan lewat sebuah tulisan. Mengkaji penggabungan antara unsur bunyi dan unsur bahasa pada lagu sangat menarik. Lebih-lebih pada konstribusi yang diberikan lagu, pada penikmatnya. Tetapi, adakah yang tahu bahwa lagu merupakan primadona karya sastra yang melibatkan unsur bunyi dan unsur bahasa? Dari banyaknya jenis karya sastra yang telah kita ketahui, seperti; puisi, cerpen, prosa, novel dan lain-lain. Ternyata lagu termasuk jenis karya sastra yang mempunyai rangking teratas di dalam karya sastra. Menurut saya, dari ke semua jenis-jenis karya satra lainnya, lagu mempunyai suatu karismatik tersendiri terhadap penikmatnya. Lagu mempunyai jangkauan rating yang sangat luas, sehingga penikmatnya hampir di semua kalangan. Di samping lagu dapat dinikmati dari segi unsur musiknya, penikmatnya juga, dapat merasakan berbagai ungkapan perasaan yang disampaikan pengarang lewat syair dari lagu tersebut.
Elok Puisi Sufi
MENGENAL PUISI-PUISI SUFI YANG MENENANGKAN JIWA DAN UNIVERSAL
Gerundelan Sonny H. Sayangbati
Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang punmelihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku. – (Rumi – Blog Sastra Indonesia)
Puisi-puisi sufi banyak diperkenalkan oleh para penyair Arab dan Persia sebagai salah satu cara melestarikan nilai-nilai keagamaan atau ajaran-ajaran dalam kitab suci mereka. Para penyair sufi berupaya menulis dengan nilai-nilai luhur atau menggunakan pendekatan yang dinamakan : ” Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme(bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi).” – Wikipedia Indonesia.
Pendekatan yang lain mengatakan bahwa : “Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.” – (Wikipedia Indonesia).
Sastra + Agama
Titik Temu Sastra Dengan Agama
OPINI | 15 September 2013 | 09:03
Dibaca: 302 Pembicaraan mengenai relasi antara agama dan sastra merupakan pembicaraan yang selalu menarik untuk dilakukan. Tidak jarang keduanya memunculkan pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif.
Hakikat agama sebagai sumber yang melahirkan hukum-hukum keagamaan seringkali memunculkan kebakuan yang tidak dapat ditawar, agama selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat. Jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat, oleh karena itu kemudian muncul istilah chatarsis, istilah yang dikemukakan oleh Aristoteles tersebut menandakan bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif.
Namun, pada tataran tertentu, keduanya memiliki klaim yang sama sebagai sesuatu yang mencerahkan. Menurut Max Weber, sosiolog teologis, agama berperan bagi institusi sosial secara etis dengan memberikan pandangan dan sikap terhadap dunia. Dari sinilah, agama sebagai pemberi makna bagi kehidupan. Bahwa dengan agamalah manusia memiliki kehidupan yang bermakna, baik kepada Tuhan maupun sesama.
Esensi agama sebagai makna ternyata tidak jauh berbeda dengan sastra. Sastra (Sansekerta: shastra) secara etimologis bermakna teks yang mengandung intruksi , dengan kata lain, sastra adalah pedoman. Sastra sebagai pedoman tentu saja berperan dalam memberikan makna. Tidak melulu berbicara hanya pada tataran keindahan dan kebebasan, ada isi yang disampaikan di dalamnya. Sejatinya dengan kebebasan dan keindahan itulah sastra merepresentasikan makna. Karena itu, Horace menyebut sastra sebagai dulce et utile, yakni yang menghibur dan yang bernilai, keduanya (yang menghibur dan yang bernilai) harus selalu bersamaan dalam sastra.
Kesamaan agama dan sastra tidak hanya bermuara pada klaim pencerahan. Agama dan sastra juga sejatinya sama-sama bermuara pada jiwa. Sastra dengan chatarsis-nya adalah cara bagi manusia untuk membebaskan jiwa dari kegelisahan-kegelisahan atas kesemrawutan tatanan sosial dan kaburnya kemanusiaan di dunia. Manusia mencari kembali kemanusiaan-nya yang hilang dengan sastra, memuaskan diri dengan bersajak atau berprosa, mencari ketenangan darinya. Sama halnya dengan agama, agama menuntun manusia untuk membersihkan dirinya, menyucikan dirinya dari segala keruwetan jiwa. Meskipun agama memberikan berbagai aturan formal bagi pemeluknya, namun agama juga sekaligus memberikan sentuhan jiwa.
Peran sastra sebagai penggugah jiwa yang tidak jauh berbeda dengan peran agama sebagai penyentuh jiwa membuat Jean-Paul Sartre, seorang filsuf asal Perancis beranggapan bahwa pada masyarakat dengan peradaban modern, posisi sastra akan menggantikan agama, dengan pertimbangan bahwa agama dianggap sebagai sesuatu yang kaku, tidak bergerak, tidak lentur, dan sulit mengaktualisasikan diri dengan zaman. Anggapan ini rupanya diamini oleh Feuerbach, teolog Jerman yang dengan keras memberi aksentuasi kritik terhadap kaum beragama: Hanya orang-orang miskin yang setia pada agama, agar mereka bisa bermimpi dan melupakan kemiskinannya. Akhirnya lupa mengkritisi penguasa negeri sendiri.Benarkah apa yang ada di pikiran Sartre bahwa sastra akan menggantikan agama? Benarkah pula apa yang disampaikan Feuerbach bahwa agama membuat pemeluknya buta akan kritik sosial maupun kritik pemerintah?
Menurut hemat penulis, sastra tidak akan mampu menggantikan agama, meskipun peradaban sudah sedemikian modern, agama justru menjadi pelengkap bagi kehidupan manusia. Benar bahwa manusia sekarang lebih cenderung membutuhkan segala yang instan, sastra dianggap cara yang lebih instan untuk menggugah jiwa ketimbang dengan agama.
Agama dan sastra dianggap dua hal yang sangat bertentangan. Tetapi, realitas yang terjadi justru tidak demikian, sastra dan agama sebenarnya senantiasa berjalinkelindan. Alquran sebagai kitab suci umat Islam diciptakan dengan tingkat kebahasaan dan sastra yang sangat tinggi, pengisahan tentang sejarah penciptaan manusia, maupun sejarah Islam dibalut dengan prosa yang begitu apik. Doa-doa, kata-kata bijak serta sejarah yang dibalut dalam puisi maupun prosa juga banyak ditemui di dalam Injil, terutama dalam Mazmur. Bukti bahwa agama adalah keindahan, yang dengan keindahan itu makna diciptakan untuk menggugah iman dan jiwa pemeluknya.
Menjadi menarik jika kita menilik hubungan sastra dan agama yang ternyata begitu intens terjalin bahkan sejak penciptaan kitab suci dilakukan.
Selain itu, posisi agama sebagai yang kaku juga tidak selamanya benar, agama sebagai pedoman kehidupan manusia pada tataran tertentu akan selalu mengikuti ke arah mana zaman berubah. Kalangan muslim modern meyakini bahwa Alquran adalah aturan formal yang fleksibel dan dinamis, ia selalu bisa ditafsirkan dengan berbagai macam makna sesuai dengan kondisi zaman yang sedang terjadi. Benar bahwa agama adalah aturan, namun agama tidak perlu ditakuti sebagai sesuatu yang memenjarakan pemeluknya dengan aturan tersebut, sebab aturan dalam agama senantiasa mengikuti kebutuhan pemeluknya sesuai dengan kondisi zaman yang sedang terjadi.
Kurang tepat kiranya pernyataan Feuerbach mengenai sikap skeptis agama tentang kritik pemerintah maupun kritik sosial. Pedoman tentang kehidupan, kebijaksanaan, keadilan, serta kepemimpinan justru lahir dari agama. Pesan-pesan yang disampaikan agama untuk manusia sejatinya adalah kritik kepada mereka yang lalai dalam menjalankan amanat kehidupan. Amanat kehidupan manusia tidak hanya ditujukan untuk Tuhan semata, ada ibadah sosial yang harus dipratikkan oleh pemeluk agama, tentang pemimpin, bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.
Dari segi semangat humanisme, agama hadir dalam kehidupan manusia untuk merevolusi kondisi sosial yang timpang dari sisi keadilan, agama hadir untuk melepaskan manusia dari segala bentuk penindasan. Melalui Rasulullah, kondisi sosial yang awalnya dalam keadaan carut-marut pada akhirnya mengalami pencerahan. Sastra pun demikian, ia hadir untuk mencerahkan manusia, sebab pengarang karya sastra dianggap memiliki kepekaan batiniah yang lebih tinggi dibanding manusia lainnya, karena itu tidak jarang kritik atas kesemrawutan tatanan diejawantahkan dalam sebentuk karya sastra yang sering kita sebut sebagai karya kritik sosial.
Menjadi jelas bagaimana posisi sastra dan agama, keduanya sama-sama menggugah dan menyentuh jiwa, sama-sama mengangkat isu kemanusiaan, sama-sama kritis terhadap kesemrawutan tatanan sosial, sama-sama memberikan makna bagi kehidupan. Maka tidak aneh kiranya jika kemudian lahir para sastrawan yang memadukan antara sastra dan agama, Muslim memiliki Gus Mus yang getol mengkritik pemerintahan dengan sastra relijiusnya, Kristiani memiliki Joko Pinurbo yang rajin menggelitik rasa humanisme kita dengan sajak-sajak dan prosanya. Akhirnya, tak ada lagi alasan untuk mempertentangkan entitas dan esensi sastra dan agama, sebab keduanya sama-sama bermuara pada satu titik; pendidik diri manusia serta penggugah jiwa dalam bingkai estetika.
(kompasiana)





+-+Aries+Aglies+-+OM+New+Cahaya.jpg)
.jpg)



